Fenomena Tradisi Pertunangan Anak di Lapa Laok

10:49:00 AM

Nikah dini adalah fenomena yang sering terjadi di kepulauan Madura. Madura sendiri memakai hukum adat dalam mengawinkan anak-anak mereka. Hukum adat itu sendiri yaitu hukum peraturan tidak tertulis yang tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat yang hanya ditaati oleh masyarakat yang bersangkutan. Hukum adat mempunyai kemampuan menyesuaikan diri dan elastis karena peraturan-peraturannya yang tidak tertulis.

Di Madura sendiri pernikahan tidak dibatasi usia. Di masyarakat Madura sendiri banyak yang kawin di usia muda bahkan ada yang kawin di usia yang belum baligh. Kebiasaan menikahkan anak yang belum baligh masih menjadi tradisi di daerah Sumenep, misalnya dengan tradisi yang terjadi di desa Lapa Laok Kecamatan Dungkek Kabupaten Sumenep. Kisaran umur perempuan yang menikah muda antara 3-15 tahun dan laki-laki antara 0-20 tahun. Pernikahan yang sudah baligh disahkan oleh Kyai daerah Sumenep dengan landasan Nabi Muhammad yang menikahi Aisyah di usia 6 tahun. Sedangkan pernikahan yang belum baligh, kyai Sumenep menganggap jenis ini hanya bentuk ikatan dua keluarga untuk saling mengawinkan anaknya sementara akad nikah baru dilaksanakan kalau pasangan tersebut sudah baligh.

Pernikahan di bawah umur juga bisa dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya: pendidikan, ekonomi, kebiasaan dan adat istiadat. Misalnya dalam hal pendidikan, orang tua dari pihak perempuan yang tidak menginginkan anaknya untuk melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi karena ditakutkan dapat mempengaruhi pergaulannya dikemudian hari, sehingga orang tua memilih untuk menikahkannya. Dalam hal ekonomi, jika sudah bersuami (menikah) tentu perekonomian keluarga sedikit terbantu. Ada juga anggapan bahwa orang Madura sendiri masih memegang teguh dan melanjutkan apa yang pernah dilakukan oleh nenek moyang mereka di masa dahulu.

Tradisi atau kebiasaan yang kerap terjadi di tengah masyarakat tradisional, kadang dianggap aneh, tidak lazim bahkan menjadi lucu. Hal ini pula yang terjadi di masyarakat Desa Lapa Laok Kecamatan Dungkek  Kabupaten Sumenep. Tidak tampak sesuatu yang aneh dan menarik bila memasuki wilayah tersebut, Namun dari keunikan tradisi masyarakatnya ditempat itu pula terdapat tradisi masyarakat yang unik dan menarik yaitu tradisi pengantin anak (kecil), bukan pengantin anak-anak “tan-pangantaran” sebagaimana tradisi peminangan anak di Sumenep.

Pengantin anak, atau pengantin kecil, dilakukan sebagaimana pengantin dewasa, diselenggarakan secara formal sebagaimana terjadi pada orang dewasa. Sebagaimana terjadi pada pengantin dewasa, pengantin anak ini dilakukan dengan proses mulai awal peminangan, pertunangan (bebekalan) sampai proses resepsi perkawinan. Namun kali ini tidak dilakukan ijab kabul pernikahan.

Tradisi ini memang sudah lama berlangsung sejak nenek moyang mereka secara turun menurun. Perkawinan  usia dini dalam perpekstif hukum memang tidak menguntungkan, bahkan membelenggu hak-hak anak untuk menentukan pilihan hidupnya. Namun tradisi tetap tradisi, yang sering menjadi bagian pembenaran  pada masyarakat tertentu. Penjodohan sejak dini tampaknya sudah mendarah daging di wilayah pulau ini. Untuk itu, di pulau ini kerap sulit menemukan garis remaja yang singgle atau jomblo. Kecuali masyarakat tertentu yang mengabaikan tradisi tersebut.

Keramaian di bawah terop dan suara loudspeeker yang nyaring saja tidaklah lengkap tanpa diawali dengan arak-arakan sang mempelai. Dimulai dan diberangkatkan dari rumah besan (mempelai laki-laki) atau tempat yang dianggap tepat kearah menuju tempat hajatan, maka diarakkan pengantin anak itu dengan menunggang kuda, yaitu kuda kenca’ atau kuda serek dengan iringan musik saronen serta sejumlah pengantar (umumnya wanita)  dengan mengenakan pakaian adat rakyat Madura dengan membawa sejumlah bawaan (penampan)  beriringinan menuju tempat hajatan.

Pada  saat itulah, pergelaran menjadi menarik, selain terdapat kedua mempelai penagantin anak naik kuda, sang kudapun ikut menari-nari mengikuti irama saronen, sementara sang pengiring di bagian belakang kerap melemparkan senyum manis sebagaimana senyum kesederhaan gadis desa. Namun kerap yang terjadi, iringan-iringan itu tidak langsung menuju ke pelaminan, tapi justru diarahkan ke tempat guru ngaji, dimana kedua atau salah satu anak belajar mengaji atau sesepuh keluarga/masyarakat mereka untuk meminta doa restu. Baru pada malam harinya, kedua mempelalai di didudukkan disinggasana pelaminan.

Meski telah menjadi pengantin, setlah acara hajatan ini berakhir, kedua anak tersebut tentu tidak ditempatkan dalam satu kamar bersama. Disini tidak ada bulan madu, tidak ada malam pertama. Setelah itu, mereka dipulangkan ke rumah masing-masing untuk kemudian, ya seperti anak-anak umumnya, mereka bermain lain dengan anak-anak sebayanya. Tanpa beban, tanpa harus melakukan ritual lainnya. Uniknya meski sang punya hajat harus mengeluarkan anggaran cukup besar, konon kisaram 75 – 150 jutaan itu, namun demikian secara berlanjut perayaan hajatan pengantin macam itu terus berlangsung dan sampai sekarang masih tetap berlangsung.

Share this

A miracle believer and a boy who is always onfire.

Related Posts

Previous
Next Post »